Latest Tweets:
@astripus - cikaracak ninggang batu laun-laun jadi legok.
Ask me anything | Submit | Archive | RSS
di dalam angkot Antapani-Ciroyom, menuju WG
Desi : Ti, lo tau kan… Gue paling takut sama yang kaya gitu.
Saya : Sama, tapi yaudah yuuuuuk plis temenin kesana..
di salah satu ruangan WG, selesai membacakan sebuah buku
Kang Undang : Neng, gimana sih rasanya kalau lihat orang buta?
Kang Trio : Pasti sieun (baca: takut) ya? (sambil tertawa)
Saya dan Desi : (saling menatap, speechless) kemudian..
Desi : Biasa aja kok, Kang..
Saya : (mengangguk setuju)
"Ngapak Dunya, Lantaran Maca"
Tagline Lomba Dongeng Sunda di salah satu Sekolah Dasar, di Kabupaten Ciamis
"Bangun tidur Anda minum apa? Aqua (74% sahamnya milik Danone, Perancis) atau Teh Sariwangi (100% milik Unilever, Inggris) atau minum susu SGM (82 persen sahamnya dikuasai Numico, Belanda). Lalu, mandi pake Lux atau Pepsodent (Unilever, Inggris). Sarapan, berasnya beras impor dari Thailand. Santai habis makan, rokoknya Sampoerna (97% sahamnya milik Phillip Morris, Amerika Serikat). Keluar rumah naik motor atau mobil buatan telfon seluler (operator semuanya milik asing). Masih bangga jadi orang Indonesia? Cuma koruptornya saja yang asli Indonesia. Sedih kan?"
kutipan Pikiran Rakyat, Selasa (21/5)
"Kalian pikir siapa yang bakalan nyelamatin negara yang nyaris terombang-ambing ini di tahun yang bakalan datang? Siapa lagi yang bisa diandalkan kalo bukan generasi mudanya? Sayangnya, generasi muda justru berpikir akan ada generasi lainnya yang meneruskan. Gimana bisa ada generasi lainnya kalo tidak ada penyambung dari generasinya tersebut? Wahai generasi muda, berhentilah jadi budak teknologi. Berhenti bersikap acuh. Masa depan bukan ada ditangan mereka yang pintar, bukan ada ditangan pejabat, bukan juga ditangan juniormu. Sesungguhnya, masa depan itu ada digenggamanmu sendiri.."
saya, 19 tahun kurang 3 bulan.
"Negeri ini sungguh membutuhkan pribadi berdedikasi yang siap membuatnya lebih baik. Mari melakukan aksi nyata. Mari berhenti mengecam kegelapan. Mari nyalakan lilin, meskipun kecil, untuk menerangi Indonesia"
Indonesia Mengajar
Dipegangnya payung sebagai topangan untuk berjalan, susah payah ia mencoba bangkit dari duduknya, menempelkan kakinya ke tanah, mencoba menyeimbangkan badannya, kemudian mencoba melangkah. Semuanya dilakukan serba perlahan bahkan sangat pelan.
“Pak, mau nyebrang? Could I help you?” batinku berkali-kali ingin berkata seperti itu tanpa menyinggung perasaannya.
Sampai akhirnya perlahan kudekati pahlawan tanpa tanda jasa (bukan kok, Beliau bukan guru. bukan guru yang mengajari kita hitungan, rumus, atau materi, tapi Beliau merupakan salah satu dari sekian banyak yang tidak kita sadari sebagai guru kehidupan ☺)
“Pak, mau nyebrang ya? Ayo bareng aja yuk.”
“Ah, ngga usah, Neng. udah biasa kok.”
“Gapapa ko, Pak. Ayo yuk sekalian.”
“Udah yu, strong. Ati-ati ya, Pak.”
Speechless. Masih dengan memperhatikannya dari jauh, si Bapak masih tetap pada posisinya. Ia mencoba bertopang pada sepeda motor yang ada di parkiran. Motor dan mobil terlalu padat berlalu lalalng, pada kondisi normal menyebrang di Jalan Hasanudin bukan hal yang sulit, tapi untuk seorang yang untuk berdiri saja harus susah payah, itu akan menjadi hal yang lebih sulit.
“Udah jangan diliatin aja, kasian. Bisa-bisa nangis gue.”
“Ya Allah, tapi itu liat dong.”
Jadi, masih ada alasan ngga sih untuk kita ngeluh capek, males jalan, atau hal-hal seperti itu? :)
09.25 Abdurahmansaleh, perempatan patung Husein.
Bocah perempuan : “A, eta baju abi…” (baca : Kak, itu baju saya)
(sambil memandang baju lusuh yang sudah terlindas beberapa angkot yang hilir mudik)
Bocah laki-laki : (celingak celinguk mau menyebrang untuk mengambil baju adiknya tersebut)
Saya : “Eh, awas Dek.. Sebentar dulu, ini masih rame.”
Bocah perempuan : (terus menatap baju lusuh tersebut)
Bocah laki-laki : (berlari agak bungkuk sambil menembus keramaian jalan)
Bocah perempuan : (mengambil baju berwarna kuning tersebut sambil memegangnya di dada) “Baju abi, A…” (baca: bajuku, Kak)
Mereka berjalan cepat sambil bergandengan tangan dan meninggalkan saya sendirian yang belum sempat berbagi dengan mereka. Ah.
Sepeninggalan mereka, tak hentinya saya berucap syukur atas nikmat-Nya. Mungkin kita pernah bahkan sering dihadapkan oleh perasaan rakus manusia yang tidak pernah puas dengan apa yang kita miliki. Kita merasa tidak punya cukup banyak pakaian, tapi lihatlah bocah perempuan tersebut. Bisa jadi baju kuning yang sudah lusuh itu merupakan baju satu-satunya. Lalu, masih adakah alasan untuk kita mengeluh seolah-olah kita manusia paling ‘zonk’ sedunia yang tidak memiliki apapun? Lihatlah sekitarmu. Dan, bersyukurlah..
Bahwasanya, dalam hidup ini kita selalu dipaksa oleh sebuah pilihan untuk ‘berani mengambil resiko’ atau ‘tetap berjalan di tempat’.
May Allah give us all the ability to forgive others for the wrong they do to us, and May Allah forgive us all for our sins - Ameen
(via havefaithinallah)
“Ini akibat ukuran sukses bagi kebanyakan orang Indonesia selalu dilihat dengan harta dan takhta, sangat materialistis, sangat duniawi pendekatannya.” kata Slamet berfilosofi. “Tampaknya penjajahan panjang yang dialami bangsa ini tidak hanya merusak sendi-sendi demokrasi dan ekonomi, tetapi juga merusak hati dan nurani.”
“Maksudmu?” tanya Poltak ingin ketegasan.
“Banyak orang yang haus kekuasaan.” sahut Fuad cepat.
Gading-gading ganesha hal. 124
"Universitas yang sesungguhnya ada di kehidupan nyata"
Gading Gading Ganesha
"Jangan mencoba menebak takdir, tangan Tuhan bekerja lebih cepat dari logika tercerdas manusia."
Tia Setiawati Priatna (via karenapuisiituindah)
(via senjaaa)
"Hikmah dari suatu kejadian mungkin terkadang tidak langsung disadari, kadang setelah berapa lama baru kita akan menyadarinya. Saat kita dihadapkan dengan suatu hal yang bisa membuat kita berpikir kembali tentang “semua perkataannya di masa lampau”. Dan, memang semua perkataannya adalah benar."
saya, dalam keadaan sadar.